🔥HotNews.pub

Chengdu Menjadi Gerbang ke Sichuan Barat, tetapi Objek Wisata Lama Kehilangan Pengunjung

Dari dewan redaksi HotNews3 mnt baca
Chengdu Menjadi Gerbang ke Sichuan Barat, tetapi Objek Wisata Lama Kehilangan Pengunjung

Chengdu telah lama menjual dirinya sebagai kota tempat Anda berlama-lama: rumah teh, panda, hotpot, dan irama hidup yang terkenal santai. Namun, pada Libur Nasional kali ini, angka-angka berbicara lain. Selama empat hari pertama liburan, lebih dari 7,4 juta pengunjung dari luar datang ke ibu kota Sichuan ini, menurut data pariwisata lokal yang dilaporkan media perjalanan Tiongkok. Dua bandara kota, Shuangliu dan Tianfu yang lebih baru, hampir tidak berhenti beroperasi, dengan hampir 290.000 pemesanan penerbangan ke Chengdu dan total pesanan hotel di seluruh kota melebihi 1,9 juta.

Di atas kertas, itu adalah kemenangan. Namun di lapangan, gambarnya lebih aneh. Kawasan seperti Chunxi Road, Taikoo Li, dan Yulin Road begitu padat hingga pejalan kaki harus menyamping untuk lewat. Namun di objek wisata lama yang mapan dan menarik biaya masuk puluhan hingga ratusan yuan, pintu putar berputar lambat dan kerumunan tipis. Wisatawan memang ada, tetapi banyak yang tidak menghabiskan waktu atau uang mereka di atraksi berbayar di dalam kota.

Penyebabnya adalah geografi. Chengdu terletak di tepi Sichuan Barat, wilayah dengan puncak bersalju, padang rumput tinggi, kota-kota berpengaruh Tibet, dan lembah-lembah dramatis yang telah menjadi salah satu destinasi wisata paling dicari di Tiongkok. Bagi jutaan wisatawan domestik, Chengdu bukanlah tujuan melainkan pusat transit: tempat Anda mendarat, menyewa mobil, membeli perlengkapan, dan menyesuaikan diri sebelum menuju barat ke tempat-tempat seperti Kangding, Danba, atau Pegunungan Siguniang.

Peran sebagai stasiun transit super itu membawa manfaat jelas. Maskapai penerbangan, perusahaan penyewaan mobil, toko perlengkapan luar ruang, dan hotel di dekat bandara semuanya diuntungkan. Namun hal itu juga memperlihatkan kelemahan. Jika pengunjung memperlakukan kota ini sebagai pos persinggahan, atraksi klasik yang bergantung pada penjualan tiket akan merugi, bahkan ketika jumlah pengunjung kota secara keseluruhan melonjak. Pola liburan ini menunjukkan perpecahan yang tumbuh antara kota-kota yang menangkap belanja dan kota-kota yang sekadar menyalurkannya.

Chengdu tidak tinggal diam. Pemerintah dan pelaku usaha setempat telah mempromosikan kawasan budaya, pasar malam, museum, dan budaya kuliner kota, dengan tujuan mengubah waktu singgah menjadi masa tinggal yang lebih lama. Reputasi kota akan gaya hidup nyaman dan santai tetap menjadi daya tarik yang kuat, dan banyak wisatawan memang menyisihkan satu atau dua hari untuk panda dan hotpot sebelum atau sesudah menjelajahi Sichuan Barat. Tantangannya adalah membuat persinggahan itu lebih lama dan lebih menguntungkan.

Pelajaran yang lebih luas berlaku jauh melampaui Sichuan. Seiring matangnya pasar perjalanan domestik Tiongkok, wisatawan semakin mengejar lanskap dan pengalaman tertentu daripada sekadar mendatangi landmark kota. Kota-kota gerbang yang dulu untung hanya karena berada di jalur kini harus memberi orang alasan untuk tinggal. Bagi Chengdu, jawabannya mungkin bukan terletak pada gerbang tiket baru, melainkan pada jalanan, rumah teh, dan dapur yang sudah menjadi ciri khasnya.

Bagi pengunjung internasional, pergeseran ini patut dicatat. Sichuan Barat kini lebih mudah diakses berkat perbaikan jalan dan penerbangan yang diperluas ke dua bandara Chengdu, dan kota ini tetap menjadi salah satu pintu masuk paling ramah di Tiongkok. Namun data liburan menjadi pengingat bahwa tempat paling ramai dan tempat paling menguntungkan tidak lagi selalu sama. Tugas Chengdu berikutnya adalah mengubah perannya sebagai pintu menjadi destinasi tersendiri.

Lompat ke cerita acak dari arsip

Grafik keterkaitan topik

Semakin tebal garis = semakin sering muncul bersama · klik simpul untuk membuka tag