Bull Market Dua Tahun di Tiongkok: Indeks Naik 45%, Investor Masih Mengeluh
Dua tahun yang lalu pada pekan ini, pasar saham Tiongkok mencatatkan salah satu pemulihan paling dramatis yang pernah diingat orang. Pada 24 September 2024, Indeks Shanghai Composite — tolok ukur utama saham Tiongkok daratan — melonjak 4,15 persen dalam satu sesi perdagangan setelah menyentuh titik terendah 2.689 poin, kenaikan harian terbesar dalam empat tahun. Hingga hari ini, indeks tersebut diperdagangkan di atas 3.888 poin.
Angka-angka di balik reli itu sungguh mencengangkan. Dalam dua tahun terakhir, Shanghai Composite telah naik sekitar 45 persen, dan total nilai saham A Tiongkok — saham yang tercatat di Bursa Shanghai dan Shenzhen di daratan serta diperdagangkan dengan mata uang lokal — membengkak sekitar 51 triliun yuan, setara dengan beberapa triliun dolar AS. Di atas kertas, ini seharusnya masuk jajaran bull market terhebat dalam beberapa tahun terakhir.
Namun cobalah mengobrol dengan investor saham biasa di Tiongkok, suasananya kerap jauh lebih lesu. Jawaban umum atas pertanyaan ‘apakah Anda untung selama dua tahun ini?’ adalah jeda diam, helaan napas, atau sekadar mengangkat bahu. Komentator keuangan di Tiongkok punya istilah untuk fenomena ini: kekayaan sedang didistribusikan ulang sekali lagi, dan tidak merata.
Ketimpangan ini bermuara pada cara pasar Tiongkok dibangun. Saham A terkenal didominasi investor ritel — rumah tangga biasa yang mengikuti saham dengan semangat seperti orang di tempat lain menyukai sepak bola. Di pasar yang digerakkan tema bergerak cepat dan rotasi sektor tajam, keuntungan cenderung terkonsentrasi pada segelintir saham unggulan berkapitalisasi besar dan industri yang sedang digemari, sementara banyak saham kecil tertinggal atau terus melemah. Investor yang membeli di harga tinggi saat euforia dan menjual di harga rendah saat koreksi kerap merugi meskipun indeks utama melesat.
Nafsu pada cerita-cerita baru jelas belum meredup. Pekan ini, perusahaan biomedis bernama Bairuiji melakukan debut di Bursa Efek Beijing, dibuka 347 persen di atas harga penawaran dan sempat melonjak lebih dari 477 persen dalam sehari. Antusiasme yang gempar itu menunjukkan energi spekulasi masih hidup — pedang bermata dua bagi para pendatang baru yang berharap keuntungan cepat datang begitu saja.
Bagi pengamat global, tonggak dua tahun ini menjadi studi kasus tentang kesenjangan antara kinerja indeks dan pengalaman investor. Pelaku pasar di Tiongkok sering menyebut ‘efek cuan’: di pasar yang didominasi investor ritel, tabungan rumah tangga baru mengalir ke saham ketika orang melihat teman dan tetangga benar-benar untung. Indeks yang naik 45 persen tak banyak berarti bagi orang yang portofolionya kalah darinya — dan kepercayaan yang pernah retak cenderung pulih secara perlahan.
Analis berpengalaman menarik pelajaran yang familier: timing dan pemilihan saham lebih penting daripada arah pasar. Sebagian besar kenaikan dua tahun ini datang dalam ledakan yang terkonsentrasi, memanjakan mereka yang masuk lebih awal dan menyengsarukan pendatang yang mengejar momentum. Saran yang beredar di media keuangan Tiongkok pekan ini condong pada kesabaran — memilih perusahaan dengan laba solid daripada saham tema sesaat, serta memandang volatilitas sebagai ciri pasar ini, bukan cacat.
Apakah dua tahun ke depan lebih ramah bagi pemilik rekening rata-rata akan menentukan bagaimana bull market ini dikenang. Untuk saat ini, peringatan dua tahun itu berdiri sebagai perayaan sekaligus kisah peringatan. Indeks yang terus naik menambahkan sekitar 51 triliun yuan nilai, tetapi di lautan investor ritel Tiongkok yang luas, gelombang itu mengangkat perahu secara tidak merata — dan banyak yang masih menunggu bagian mereka dari gelombang tersebut.