🔥HotNews.pub
ID

Mengapa Orang Tua Tionghoa Masih Mengantar Anak Kelas Lima ke Sekolah

3 mnt baca
Mengapa Orang Tua Tionghoa Masih Mengantar Anak Kelas Lima ke Sekolah

Sebuah pertanyaan tunggal yang diposting ke forum populer Tiongkok pekan ini telah menarik ribuan balasan: mengapa begitu banyak orang tua masih mengantar anak kelas empat dan lima mereka ke sekolah, padahal anak-anak itu tampak cukup besar untuk melakukan perjalanan sendiri? Penulis postingan mengenang dirinya berjalan kaki ke sekolah sejak kelas tiga, sering bertemu tetangga di sepanjang jalan dan bermain di luar saat pulang. Ia mencatat bahwa beberapa orang tua kini memadati gerbang sekolah begitu rapat hingga trotoar menghilang.

Kenangan akan masa kecil tanpa pengawasan itu umum di kalangan orang dewasa Tiongkok yang tumbuh pada 1980-an dan 1990-an, ketika lalu lintas lebih sepi dan sebagian besar keluarga tinggal dekat dengan sekolah lingkungan mereka. Banyak komentator mengatakan mereka hanya berjalan kaki, bersepeda, atau naik bus, dan pengalaman itu mengajari mereka membaca jalan, menangani masalah kecil, dan menjaga anak-anak yang lebih muda.

Para orang tua yang berbaris di luar gerbang setiap sore menceritakan kisah yang berbeda. Kota-kota telah tumbuh jauh lebih besar, dan sebuah keluarga kini mungkin tinggal beberapa kilometer dari sekolah yang dihadiri anak mereka. Jalan utama dilalui lalu lintas padat, skuter listrik menyusup di sepanjang trotoar, dan jam sibuk dapat mengubah jalan kaki singkat menjadi bahaya nyata. Bagi banyak orang tua yang bekerja, perjalanan itu juga satu-satunya waktu yang terjamin bersama anak mereka pada hari kerja.

Ketakutan akan keselamatan lebih dalam daripada lalu lintas. Rumor penculikan anak menyebar cepat melalui grup obrolan orang tua, bahkan ketika kasus semacam itu jarang terjadi, dan satu cerita menakutkan dapat membentuk kebiasaan seluruh lingkungan. Kakek-nenek sering menangani penjemputan sementara kedua orang tua bekerja, dan rutinitas tetap memberi keluarga titik serah terima yang andal daripada membiarkan anak menunggu sendirian.

Komentator juga menunjukkan bahwa jam sekolah jarang cocok dengan jam kantor. Pelajaran mungkin berakhir pada pertengahan sore, jauh sebelum sebagian besar pekerjaan selesai, jadi seseorang harus berada di gerbang. Beberapa sekolah mewajibkan tanda tangan orang tua atau wali saat penjemputan, dan beberapa membatasi murid yang lebih muda untuk keluar tanpa pendamping sama sekali. Dengan kata lain, kemandirian bukan semata-mata keputusan keluarga.

Debat ini tidak unik bagi Tiongkok. Orang tua di Jepang, Korea Selatan, dan banyak kota Barat memperdebatkan pertukaran yang sama, dan tradisi Jepang tentang anak-anak kecil yang bepergian dalam kelompok sering dikutip sebagai ideal. Keluarga Tiongkok mempraktikkan versinya: bus sekolah jalan kaki, di mana orang tua bergiliran mengantar sekelompok anak di sepanjang rute tetap, telah muncul di beberapa kota dan sering dipuji dalam utas tersebut.

Mereka yang membela kebiasaan saat ini mengatakan kemandirian dapat dibangun dalam langkah-langkah kecil. Seorang anak mungkin berjalan sendirian di blok terakhir, membawa ponsel, atau bepergian dengan teman sekelas sementara orang tua mengikuti dari jarak jauh. Beberapa komentator menggambarkan membiarkan anak-anak naik transportasi umum sejak sekitar usia sepuluh tahun, dengan aplikasi lokasi bersama sebagai jaring pengaman alih-alih tali pengikat.

Yang muncul dari diskusi ini bukanlah putusan tentang pola asuh, melainkan potret bagaimana masa kecil perkotaan telah berubah. Perjalanan yang lebih panjang, jalan yang lebih sibuk, keluarga yang lebih kecil, dan jam kerja yang lebih panjang semuanya mendorong orang tua menuju gerbang sekolah. Apakah itu membuat anak-anak kurang mampu atau justru lebih terlindungi tergantung pada siapa yang ditanya, tetapi hanya sedikit dari ribuan balasan yang menunjukkan pertanyaan ini akan segera terselesaikan.

Lompat ke cerita acak dari arsip