Luckin Coffee Raih US$1 Miliar dari Dana Abu Dhabi Mubadala
Luckin Coffee, jaringan asal Tiongkok yang pernah tampak tamat, baru saja meraih salah satu dukungan terkuat yang bisa didapat sebuah perusahaan. Dana kekayaan negara Abu Dhabi, Mubadala Investment Company, mengumumkan investasi strategis minoritas sekitar US$1 miliar di Luckin, yang dilakukan bersama Centurium Capital, firma ekuitas swasta yang mengendalikan perusahaan kopi tersebut. Mubadala mengelola aset sekitar US$385 miliar dan pernah mendukung nama-nama seperti SHEIN di Tiongkok, sehingga kesepakatan ini terbaca sebagai taruhan institusional yang serius, bukan sekadar kisah kebangkitan yang sentimental.
Bagi pembaca yang melewatkan dramanya: Luckin tumbuh dengan kecepatan luar biasa setelah diluncurkan pada 2017, membanjiri kota-kota Tiongkok dengan gerai kecil untuk pengambilan pesanan dan menekan harga pesaing dengan diskon besar-besaran. Perusahaan ini melantai di Nasdaq pada 2019, lalu pada 2020 laporan short-seller dari Muddy Waters memicu investigasi internal yang mengungkap sekitar 2,2 miliar yuan penjualan fiktif. Sahamnya ambruk, perusahaan dihapus dari bursa, dan banyak pengamat menganggap merek ini sudah tamat.
Namun Luckin membangun ulang dirinya. Perusahaan mengganti manajemen puncak, membayar denda, dan kembali fokus pada fundamental bisnis kopi: ekonomi gerai, rantai pasok, dan inovasi produk. Kemitraan dengan berbagai merek dan selebritas menjaganya tetap diperbincangkan, sementara aliran minuman baru yang stabil, dari latte kelapa hingga kopi beraroma buah, membawa kembali pelanggan muda ke gerai-gerainya. Jumlah gerai melampaui puluhan ribu, dan pendapatan pulih ke level rekor.
Modal baru ini penting karena beberapa alasan. Dana ini memberi Luckin amunisi untuk ekspansi di pasar yang persaingannya sudah sangat brutal. Pesaing seperti Cotti Coffee, yang didirikan oleh pendiri Luckin yang justru tersingkir, telah meniru strategi diskon, sementara Starbucks terus mempertahankan posisi premiumnya di Tiongkok. Dukungan dana kekayaan negara juga menjadi sinyal bahwa investor institusional bersedia melupakan babak penipuan dan menilai perusahaan berdasarkan operasinya saat ini.
Keterlibatan Mubadala sejalan dengan pola yang lebih luas: modal dari Teluk yang mengalir ke bisnis konsumen dan teknologi Tiongkok. Bagi dana tersebut, kopi adalah kisah pertumbuhan yang terkait dengan kelas menengah Tiongkok yang terus naik dan kebiasaan minum kopi harian yang kini sudah mapan di negara itu, terutama di kalangan pekerja kantoran perkotaan. Bagi Luckin, kemitraan ini tidak hanya menawarkan uang tunai, tetapi juga kredibilitas di mata investor internasional dan potensi akses ke pasar Timur Tengah.
Tantangan masih ada. Pertumbuhan yang didorong diskon dapat menekan margin, dan konsumen Tiongkok telah menunjukkan bahwa mereka akan cepat berpindah merek ketika harga berubah. Luckin juga harus terus membuktikan bahwa tata kelolanya benar-benar berubah, karena ingatan akan skandal akuntansi itu masih membekas di kalangan investor global. Perusahaan menyatakan fokus pada pertumbuhan berkelanjutan, bukan sekadar membeli pangsa pasar.
Meski begitu, perjalanannya luar biasa. Hanya sedikit perusahaan yang pulih dari penipuan sebesar itu, apalagi menarik dana kekayaan negara sebagai investor hanya beberapa tahun kemudian. Kisah Luckin kini menjadi studi kasus tentang bagaimana merek konsumen Tiongkok dapat bertahan dari pengalaman nyaris mati, membangun kembali kepercayaan di dalam negeri, dan perlahan merebut kembali modal internasional yang pernah hilang.
Bagi pembaca global yang mengamati ekonomi konsumen Tiongkok, kesepakatan ini adalah sinyal yang berguna. Kopi di Tiongkok bukan lagi hal baru atau simbol status yang diimpor dari Barat; kopi telah menjadi kebiasaan pasar massal dengan persaingan ketat dan uang nyata yang dipertaruhkan. Jika taruhan Mubadala membuahkan hasil, Luckin mungkin akhirnya lebih dikenal bukan karena skandalnya, melainkan karena membuktikan bahwa babak kedua dalam bisnis itu mungkin terjadi.