🔥 HotNews.pub
ID

Demam Maraton: Ketika Lari Menjadi Ritual Akhir Pekan di Tiongkok

1 mnt baca

Pada Minggu pagi biasa saja, ratusan ribu orang di Tiongkok sedang berlomba. Maraton kota besar seperti Beijing, Shanghai, dan Wuxi menerima ratusan ribu pendaftar untuk hanya puluhan ribu slot, dan event paling populer ludes dalam hitungan jam. Bagi banyak peserta, mendapat nomor peserta saja sudah seperti undian.

Boomyang ditopang pelari amatir, bukan atlet elite. Klub lari berkumpul sebelum kerja, aplikasi kebugaran mengatur program latihan, dan menyelesaikan maraton menjadi tujuan hidup bersama satu generasi pekerja kantoran. Pemerintah kota melihat tren ini dan berlomba menjadi tuan rumah, memandangnya sebagai pemasaran kota dan pendorong pariwisata.

Ekonominya besar. Merek pakaian olahraga, pembuat jam, dan minuman olahraga berebut sponsor, sementara “race travel” — terbang ke kota lain untuk lari maratonnya dan menginap akhir pekan — telah menjadi industri kecil tersendiri.

Wisatawan pun bisa ikut. Beberapa lomba besar menyediakan kuota internasional, dan suasananya — penonton bersorak di pinggir jalan, relawan membagikan segala hal dari gel energi hingga bakpao — menjadikan maraton di Tiongkok cara yang hangat sekaligus tak terduga untuk mengenal sebuah kota.